GMO dalam Pertanian Organik

GMO dalam Pertanian Organik

16/07/2021 Off By transge1rF

GMO dalam Pertanian Organik –  Organisme yang dimodifikasi secara genetik (GMO) adalah organisme yang gennya telah dimodifikasi melalui penggunaan rekayasa genetika. Produk rekayasa genetika terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu generasi pertama: sifat; generasi kedua: seperangkat karakteristik; generasi ketiga dan keempat: intragen cepat, intragen dan cisgen. Produk rekayasa genetika tanaman di Indonesia banyak macamnya seperti padi, tomat, tebu, singkong dan kentang .

GMO dalam Pertanian Organik

transgenicsfora – Dalam SNI 6729:2016 tentang sistem pertanian organik disebutkan bahwa benih dari produk transgenik tidak boleh digunakan. Kecuali benih, GMO tidak boleh digunakan sebagai bahan dalam pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), hewan tidak boleh memberi makan kotorannya sebagai pupuk, mikroorganisme yang berasal dari GMO tidak boleh digunakan dan pengurai/dekomposer bukan GMO.

Baca Juga : Mencari Produk Unggul Lewat Rekayasa Genetik

Sejauh ini, produk transgenik masih kontroversial. Produk transgenik dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan, lingkungan, agama, psikologi dan lain-lain. Saat menggunakan produk GMO, ada ketakutan bahwa mutasi tak terduga dapat terjadi pada objek dan mempengaruhi lingkungan, membuat situasi menjadi tidak terkendali. Situasi berikut ini tentu berpotensi mengganggu ekosistem.

Ini bertentangan dengan prinsip pertanian organik. Dalam SNI 6729:2016 disebutkan bahwa pengertian proses pertanian organik adalah proses pengelolaan yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesegaran agroekosistem serta keanekaragaman hayati, siklus, biologi dan biologi tanah.

Pertanian organik menekankan pada penggunaan praktik pengelolaan yang lebih menekankan pada input yang berasal dari limbah dari kegiatan pertanian dengan tetap mempertimbangkan kekuatan adaptasi terhadap kondisi/kondisi setempat. Sedapat mungkin, melalui penggunaan budidaya, metode biologis dan mekanis yang tidak menggunakan bahan sintetis, hal-hal berikut dapat dicapai untuk memenuhi persyaratan tertentu dalam sistem. Tujuan utama pertanian organik adalah untuk mengoptimalkan produktivitas komunitas tanah, tanaman, hewan, dan manusia yang saling berhubungan.

Baca Juga : Mengenal Kuskus Beruang, Satwa Endemik Khas Indonesia

Pertanian organik mendorong penggunaan input lokal seiring dengan pengembangan pertanian terpadu yang mengarah pada zero waste dengan menggunakan kembali limbah lahan. Oleh karena itu, seperti sebelumnya, transgenik kontroversial tidak boleh dimasukkan dalam pengelolaan pertanian organik.